Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juni 2010

Mencari sumber masalah pada Peugeot 405 STi

Pendapat bahwa pembeli mobil bekas harus siap menghadapi masalah lanjutannya mungkin benar. Saya mengalaminya pada Peugeot 505 GR 1983 dan 1986, terutama bagian mesin. Namun masalah keduanya bisa diatasi dengan sangat memuaskan, sekaligus menambah pengetahuan tentang karakteristik mesin Peugeot 505 GR. Namun lain lagi pengalaman dengan seri 405 STi 1996. Tetapi pada dasarnya, untuk mengatasi masalah diperlukan kesabaran, kreativitas, dan motivasi belajar.

Pertama kali menggunakan 405 STi terasa gejala mesin tersendat di tanjakan ringan. Saat itu mobil sudah berjalan kurang lebih 1 jam, diselingi kemacetan lalu lintas. Pada 505 GR, gejala ini biasanya disebabkan kekurangan pasokan bahan bakar ke karburator, karena pompa bahan bakar kurang berfungsi normal.

Setelah mobil dipinggirkan, mesin dinyalakan kembali, lalu akselerator (pedal gas) diinjak penuh, namun mesin tetap tersendat-sendat. Akhirnya mesin dimatikan kurang lebih 30 menit. Setelah itu dinyalakan kembali dan mesin tidak tersendat lagi. Langsung menuju ke bengkel langganan khusus Peugeot di Jl. Karapitan Bandung. Sampai di sana mesin tetap dinyalakan sampai muncul gejala tersendat. Setelah diperiksa oleh mekanik, ternyata dugaan saya benar, pompa bahan bakar tidak berfungsi normal. Analisis mekanik, setelah bekerja beberapa lama, pompa menjadi panas hingga akhirnya tidak cukup kuat memompa bahan bakar. Pompa bahan bakar diganti dengan pompa baru merk Pierburg seharga Rp 1 juta. Masalah terselesaikan.

Kira-kira 1 bulan berikutnya muncul gejala lain. Mesin 405 STi saya menunjukkan gejala idle nge-drop, lalu mati saat memindah gigi percepatan (versnelling). Mengingat gejala serupa pada mesin Peugeot 505 GR 1983 dan 1986, biasanya masalah terletak pada sistem bahan bakar, antara lain karburator, filter bahan bakar, dan pompa bahan bakar. Bisa jadi karena karburator tersumbat kotoran. Solusinya gampang saja, bongkar karburator, lalu bersihkan dengan carburetor cleaner, selesai.

Pada mesin 505 GR yang konvensional, mencari sumber masalah masih bisa dilakukan dengan peralatan sederhana. Namun pada jenis mesin 405 STi yang dikendalikan oleh ECU (Electronic Control Unit) atau unit pengendali elektronik, mencari sumber masalah tidak bisa dengan cara "konvensional". Diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosa dan mencari komponen-komponen yang tidak berfungsi.

Menghadapi masalah yang terakhir ini, saya terlebih dulu membaca berbagai pengalaman pemakai seri 405 di internet. Berbekal berbagai informasi tersebut, saya simpulkan sumber masalahnya adalah idle regulator. Padahal, bila mesin dinyalakan pada pagi hari, idle regulator berfungsi normal. Awalnya putaran mesin naik hingga RPM 1500, lalu turun ke RPM 1200, turun lagi ke RPM 1100, dan beberapa detik kemudian turun ke putaran normal RPM 850-900. Gejala ini juga saya konsultasikan dengan bengkel langganan, dan mereka mempunyai dugaan yang sama.

Idle regulator segera saya ganti dengan onderdeel baru merk Pierburg seharga Rp 575 ribu. Tetapi masalah belum terpecahkan. Akhirnya bengkel resmi Peugeot di Bandung menjadi harapan terakhir. Di sana diagnosa dan fault finding dilakukan dengan komputer dengan software khusus untuk Peugeot 405 STi.

Kabel data dari ECU disambungkan ke komputer, roda depan kiri didongkrak, mesin dinyalakan sambil masuk versnelling 1. Komputer melakukan pembacaan status setiap komponen. Muncul tulisan di layar komputer sebagai berikut: (1) Intermittent fault Vehicle Speed Sensor function; (2) Intermittent fault Throttle Potentiometer function. Dua komponen itu diduga tidak berfungsi oleh komputer. Namun mekanik menyatakan bahwa bila dilihat dari fakta mesin masih bisa idle secara normal, maka dugaan terkuat ada pada VSS (Vehicle Speed Sensor).

Saya tanyakan harga VSS di bengkel resmi, ternyata cukup mahal sekitar Rp 750 ribu, dan itupun tidak ready stock, harus memesan dulu ke Jakarta. Karena itu saya putuskan untuk mencari alternatif ke toko langganan. Di sana juga tidak ada stok VSS, namun mereka bisa memesankan, bahkan bisa mencarikan merk lain yang lebih murah dengan harga Rp 250 ribu. Walaupun toko langganan tidak berani menjamin kualitasnya, dengan tekad bulat saya pesan 1 unit. Dua hari berikutnya VSS merk Cogeva saya pasang. Kemudian mobil dijalankan sambil berdoa asal mesin tidak mati. Ternyata saat dijalan malah lebih dari harapan. Ketika memindah versnelling, putaran mesin turun sejenak di bawah RPM 1000, lalu naik ke RPM 1100 dan turun sedikit demi sedikit ke RPM 850. Masalah terpecahkan! Alhamdulillah sampai jarak lebih dari 8000 kilometer VSS "imitasi" masih berfungsi normal.

Selasa, 25 Mei 2010

Akibat Tertidur Saat Mengemudi

Mengemudi selama 15 jam tanpa istirahat bisa berakibat fatal. Apalagi pakai mobil nyaman seperti Peugeot 505 GR 1983. Hasilnya... menyeruduk pantat truk... Kecelakaan ini terjadi di Tol Cipularang menjelang pintu tol Buahbatu, Bandung, 4 Januari 2008 sekitar pukul 4.30, saat adzan subuh. Alhamdulillah, kami sekeluarga tak mengalami luka sedikitpun, kecuali istri, akibat tak memasang safety belt (saat itu sedang menyusui anak), dahinya membentur kaca depan, namun hanya benjol sedikit...
Mobil ditarik ke bengkel. Menurut mekanik, mobil bisa diperbaiki, tapi karena saya lihat dudukan per roda depan kiri berubah posisi, saya pikir tetap akan berpengaruh pada sistem kemudi. Akhirnya saya putuskan dijual sebagai besi tua. Lumayanlah buat tambahan dana cari Peugeot 505 GR yang baru. Setelah survei sana-sini, dapat 505 GR 1986.

Kamis, 25 Februari 2010

Perjuangan memasang Auxiliary Drive belt Peugeot 405 STi

Senin, 15 Februari 2010 sekitar pukul 10.00 Wib, saat hendak parkir di BCA Madiun, tiba-tiba terdengar bunyi mendecit dari ruang mesin, seketika warning light baterai di dashboard menyala. Saya segera buka kap mesin, cari sumber bunyi, lalu terlihat auxiliary drivebelt keluar dari relnya. Cek bearing pompa power steering, oke, tensioner juga oke, terus cek ke bawah, bagian pulley...nah ketemu sumber masalahnya. Ternyata karet bantalan pulley sudah hancur, sehingga pulley jadi goyang. Setelah longtrip Bandung-Madiun-Surabaya (speed 110 km/jam di tol Gempol)-Malang-Madiun, sang pulley akhirnya menyerah di Madiun.

Dengan sisa-sisa stroom pada accu, mobil bisa sampai juga ke rumah paman, yang untungnya masih di dalam kota. Mobil sudah aman, sekarang tinggal cari sparepart dan mekaniknya. Saya segera kontak bengkel PAS, Yogyakarta, pesan pulley dan auxiliary drivebelt, tapi PAS juga menyarankan ganti tensioner sekalian. Akhirnya sepakat untuk beli pulley, auxiliary drivebelt dan tensioner (2 buah), semua original, dana ditransfer lewat BCA, barang dikirim lewat TIKI 2 hari. Selesai satu masalah. Sekarang tinggal cari mekanik. Teringat oleh saya ada bengkel di Jl. Diponegoro Madiun yang pasang logo Peugeot, pikir saya mungkin bisa dipanggil ke rumah. Disinilah tahap perjuangan dimulai. Saya temui mekanik di bengkel itu, dan ia menyanggupi bekerja di rumah pada esoknya, Selasa, 16 Februari 2010 pukul 9.00.

Selasa, 16 Februari 2010 mekanik ini tak muncul pada jam yang sudah disepakati. Setelah satu jam menunggu, kesabaran saya habis. Saya telepon dia, alasannya masih mencari peralatan. Ditunggu-tunggu tetap tidak muncul dan tak memberi kabar. Akhirnya saya putuskan untuk mengerjakan sendiri. Baca service & repair manual Hayness yang sudah jadi kelengkapan mobil (ternyata ada gunanya juga dibawa kemana-mana). Hari itu juga pinjam penyangga bodi (jack stand?) dan dongkrak "buaya" dari tetangga paman. Pinjam satu set kunci allen (biasa disebut kunci L) segi enam dari tetangga paman lainnya. Setelah itu mulai bekerja: (1) melepas roda depan kanan; (2) melepas baut pengunci bearing drivebelt tensioner atas dengan kunci allen 6 mm dari atas karena lebih mudah; (3) melepas plastik pelindung lumpur; (4) melepas dudukan drivebelt tensioner bawah dengan kunci allen 6 mm. Saat melepasnya cukup mudah karena pegas tensioner dalam keadaan tidak meregang, sedangkan untuk memasangnya diperlukan alat khusus untuk meregangkan pegas; (5) melepas pulley. Nah disini ternyata diperlukan alat khusus untuk membuka mur pengunci pulley. Pekerjaan tertunda semalam karena hari sudah malam. Kiriman sparepart baru datang pada Rabu malam, 17 Februari 2010. Kamis pagi, 18 Februari 2010 mengorder bengkel las untuk membuatkan alat-alat khusus itu. Pembuka mur pengunci pulley dibuat dari potongan pipa yang diberi tangkai penahan kanan-kiri. Agar diameter pipa bisa pas, digunakan pulley baru sebagai mal. Sedangkan alat peregang pegas tensioner, menggunakan besi baja bekas untuk rangka beton, yang dibentuk dengan 3 titik penahan. Kamis sore, special tools selesai dibuat. Tapi ternyata mur pulley melekat sangat kuat, sehingga sulit dibuka. Pekerjaan ditunda karena sudah larut malam. Jum'at sore, 19 Februari 2010 mencoba lagi untuk membuka mur pulley dengan trik lain, dan berhasil.











Wuah melepas pulley perlu 5 hari perjuangan. Tak sampai 10 menit sparepart baru, penahan lumpur, dan roda sudah terpasang kembali.
Maksud hati ingin menikmati hasil perjuangan sampai ke Bandung malam itu juga, tapi karena badan sudah terlalu lelah, naik kereta api sajalah...